KEINDAHAN PULAU KEMBANG
Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala mempunyai banyak sektor pariwisata, budaya, ekonomi yang berkembang dengan sangat baik. Berbagai macam destinasi wisata Kota Banjarmasin yang wajib untuk dikunjungi bagi anda yang sedang berlibur yaitu Pasar Terapung Lok Baintan, Jembatan Sungai Barito, Menara Pandang Banjarmasin, dan sebagainya. namun ada tempat wisata unik yang terletak di tengah Sungai Barito dan merupakan tempat wisata terkenal di kalangan masyarakat Banjar yang disebut Pulau Kembang.


Pulau Kembang adalah sebutan sebuah delta yang dihuni oleh fauna yang bernama kera atau biasanya masyarakat banjar menyebutnya warik. Pulau tersebut terletak di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan, lebih tepatnya di tengah Sungai Barito. Pulau tersebut lumayan besar dengan hutan wisata kurang lebih 50 hektar. Pulau Kembang tersebut tidak dihuni oleh manusia melainkan didominasi oleh monyet dan bekantan, namun sayangnya bekantan jarang terlihat oleh wisatawan karena sifatnya yang pemalu. Namun jangan risau untuk pergi berwisata ke Pulau Kembang, karena di sana ada warga lokal sebagai pawang monyet yang bertugas untuk memandu wisatawan selama perjalanan di pulau tersebut dan sekaligus mengatur perilaku binatang agar tidak membahayakan dan merugikan para wisatawan. Anda perlu memberikan tarif sukarela kepada pemandu, namun usahakan agar tak terlihat pemandu yang lain karena mereka akan mendekati anda untuk meminta uang. Di pulau tersebut wisatawan tak perlu repot-repot membawa makanan yang akan diberikan ke kawanan monyet, karena di sana sudah ada yang menjual makanan berupa kacang pilus seharga Rp. 3.000 /bungkus. Saat
Konon menurut kepercayaan masyarakat Banjar, bahwa Pulau Kembang terbentuk karena kapal perang Inggris atau Belanda yang tenggelam akibat pertempuran dengan Kerajaan Banjar. Sedangkan  monyet dan bekantan dipercaya merupakan para penjajah yang terkena kutukan. Anggapan ini boleh saja benar karena endapan lumpur dan ranting-ranting yang hanyut dibawa air sungai menyangkut pada kapal tersebut. Lama-kelamaan seiring dengan waktu terbentuk pulau dan ditumbuhi pepohonan. Penghuni pulau terutama bekantan mempunyai warna kulit yang pirang dan hidung yang besar seperti orang barat, karena hal tersebut monyet dan bekantan dikaitkan dengan jelmaan penjajah. Tapi bukan itu saja, ada yang beranggapan bahwa Pulau Kembang adalah tempat para ratu dan raja meminta hajat. Di sana juga ada sebuah kuil kecil para umat Hindu yang terdapat patung sepasang laki-laki dan perempuan yang dibangun oleh orang Cina karena rasa syukur hajatnya berhasil.
Asal usul monyet-monyet pulau kembang bisa sangat banyak karena kono dahulu kala salah satu keturunan kerajaan kuin tidak bisa mempunyai anak. Lalu keturunan raja ini berkonsultasi ke ahli nujum. Menurut ahli nujum jika ingin dikaruniai anak maka harus pergi ke pulau kembang dan melaksanakan upacara mandi-mandi. Apa yang diberitahu oleh ahli nujum diterima baik oleh keturunan kerajaan dan mereka siap melaksanakannya. Beberapa saat setelah mengadakan upacara mandi-mandi, istri dari keturunan raja dinyatakan hamil. Karena para keturunan raja sangat gembira, maka raja yang saat itu berkuasa memerintah petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut supaya tidak ada yang merusak. Lalu petugas kerajaan diperintah untuk membawa dua ekor monyet besar, jantan dan betina yang diberi nama Anggur. Di pulau tersebut terdapat dua rombongan monyet yang akan keluar di waktu berbeda, rombongan pertama yang dipimpin oleh satu ekor monyet besar sekitar pukul 05.00 s.d. 13.00. Kemudian disusul rombongan kedua yang juga dipimpin satu ekor monyet. Jika rombongan pertama melebihi batas waktu, maka rombongan kedua akan diserang oleh rombongan pertama.
Untuk bisa menuju ke Pulau Kembang wisatawan bisa menaiki klotok yang sudah tersedia di sring dengan biaya Rp. 35.000 /orang dengan waktu perjalanan sekitar kurang lebih 40 menit jalur perairan yang melewati pemukiman warga Pasar Lama. Harga tiket masuk ke Pulau Kembang cukup murah dengan harga Rp. 5.000 /orang untuk wisatawan domestik, sedangkan Rp. 25.000 /orang untuk wisatawan mancanegara.
Keadaan Pulau kembang sekarang ini sedikit tidak terawat. Apalagi sekarang ini spesies hewan bekantan mulai terancam punah akibat keserakahan manusia yang merusak rumah mereka. Sebagai generasi muda kita harus menjaga pulau tersebut dengan cara tidak membuang sampah, menjaga kebersihan saat berjalan di pulau tersebut dan juga kita harus menghormati sejarah-sejarah dari Pulau itu sendiri. Dan juga sebagai manusia kita tidak boleh merusak rumah mereka demi kepentingan diri kita masing-masing.
Demikian Pulau Kembang merupakan tempat yang cocok bagi anda yang tertarik melihat, memegang, memberi makan, dan mengajak foto para kawanan monyet dan bekantan secara langsung. Sejarah-sejarahnya yang begitu bisa kita jadikan sebagai pembelajaran bahwa semua yang ada di alam semesta mempunyai sejarah tersediri.

Komentar